Pada laga terakhir yang dilaksanakan hari Selasa tanggal 12 Mei 2026 Timnas Indobesia U-17 harus berjuang hidup mati menghadapi tim kuat yaitu Jepang.
Sehari sebelum laga, Kurniawan memompa semangat para pemain dan menanamkan jiwa optimisme untuk bisa mengalahkan Jepang yang sementara menduki pemuncak klasemen dengan torehan nilai 6 dari hasil 2 laga sebelumnya mengalahkan Qatar 3-1 dan Cina 2-1,sementara Indonesia baru mengoleksi nilai 3 dari hasil mengalahkan Cina 1-0 dan kalah dari Qatar 0-2.
Namun semangat tinggalah semangat, kenyataanya Garuda muda harus bertekuk lutut dengan skor cukup telak yaitu 1-3, meskipun sempat mempertipis 1-2 ,namun Jepang yang memang memiliki keunggulan di segala lini akhirnya menghempaskan Garuda Muda , jatuh di peringkat 4 paling bawah atau dasar kalsemen dengan perolehan nilai 3 defisit gol - 3, sedangkan Jepang kokoh dipemuncak klasemen dengan menyapu bersih semua pertandingan dan mengumpulkan nilai 9 dan produktivitas gol cukup tinggi yaitu memasukan 8 kemasukan 3,justru Cina yang sempat dikalahkan Indonesia mampu mengalahkan Qatar 2-0 , sehingga memiliki nilai 3 dengan selisih gol 0 , sehingga menggusur Indobesia dan Qatar dan menduduki peringkat 2 , kemudian Qatar memiliki nilai 3 hasil dari menang melawan Indonesia 2-0, dengan selisih gol -2.
Dari hasil tersebut maka Jepang dan Cina melaju ke perempat final dan memastikan diri lolos ke putaran Piala Dunia U-17.
Hasil yang diperoleh Timnas Indonesia padtilah sangat mengecewakan , rupanya para pemain dan tim kepelatihan tidak belajar dari hasil piala AFF U - 17 beberapa waktu lalu dimana Garuda Muda juga gagal Total, dengan hasil ini melengkapi kegagalan tim dari Asia Tenggara karena Thailand dan Myanmar juga gagal.
Pola permainan Indobesia memang masih banyak kelemahan dan celah, terutama dalam hal mematahkan serengan lawan, masih terbawa pergerakan bola tidak bisa mengantisipasi pergerakan lawan,dengan strategi bertahan alias parkir bus pun masih bisa ke bobolan apalagi dengan open play, sebenarnya bertahan total tidak masalah, tapi mestinya dengan gaya seperti tidak boleh kebobolan, kalau bertahan total kok masih kebobolan, itu berarti sangat rapih, tidak bisa berkoordinasi.
Hal yang tidak bisa dimengerti mengapa pemain tidak bisa melakukan improvisasi,baik dari skil individu,kolektivitas tim dan gaya dan kemampuan dari tim-tim sebelumnya juga begitu, jadi seperti sebuah Trade Mark untuk kualitas produk pemain sepakbola Indonesia dari tahun ke tahun.
Semoga anda mendapatkan manfaat, apabila ingin bersodaqoh atau infak/ donasi ( seikhlasnya ) silahkan transfer ke rek BCA : 0152782819
Atas nama Sunarta
yang sudah bersodaqoh / transfer saya doakan sehat selalu banyak rezeqi berlimpah ruah, dimudahkan segala urusanya.
Apa sebab terjadi perbedaan kelas atau kualitas dalam Sepak bola ?
Secara teori pelatih mengetahui bagaimana pola atau strategi permainan, teknik bermain bola, stamina pemain, skil pemain, kerjasama tim dan lain sebagainya akan tetapi mengapa yang sudah sering kalah tetap saja tidak bisa memperbaiki tim ? kalau semua sudah dilatih, tentu saja tinggal bagaimana para pemain menggunakan cara berfikir yang cepat dan harus memilki stamina yang prima.
#Sepakbola
#Hasil piala AFC U-17
# Timnas Indonesia
#piala dunia u-17
#PSSI
#pecinta timnas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Buka terus info, ambil artikel bermanfaat,sebarkan ke semua orang,
Untuk mencari artikel yang lain, masuk ke versi web di bawah artikel, ketik judul yang dicari pada kolom "Cari Blog di sini " lalu enter