Anda berkecimpung di bidang Laboratorium Kimia?
Tentunya Anda tidak asing lagi dengan penggunaan instrument untuk menunjang kinerja agar mendapatkan hasil analisa yang akurat.
Pertanyaannya: Sudahkah instrument Anda dilengkapi UPS?
Apa Itu UPS dan Mengapa Penting untuk Alat Lab?
Kita semua tahu instrument Laboratorium memiliki sensitivitas tinggi terhadap tegangan listrik.
Diperlukan kestabilan dan pencegahan kehilangan data saat tiba-tiba listrik padam.
UPS adalah _Uninterruptible Power Supply_. Fungsinya menyimpan daya saat listrik padam, sekaligus menjaga kestabilan tegangan.
Ada 3 Jenis UPS. Mana yang Cocok untuk Lab?
1. UPS Offline / Standby
Tidak bisa berfungsi sebagai stabilizer. Alat ini hanya bekerja jika listrik mati total. _Kurang cocok untuk lab._
2. UPS Line Interactive + AVR
Bisa berfungsi sebagai stabilizer. Ini paling umum. Ada fitur `AVR = Automatic Voltage Regulator`.
Jika tegangan 180V dia naikkan ke 220V. Jika 250V dia turunkan.
Cocok untuk: PC, printer, spektrofotometer, pH meter, centrifuge.
3. UPS Online / Double Conversion
Ini paling bagus. Listrik masuk diubah jadi DC dulu, baru jadi AC 220V lagi. Jadi outputnya benar-benar stabil 220V terus.
Cocok untuk: HPLC, GC, AAS, PCR, alat medis, instrumen mahal.
Kesimpulan: Instrumen Mana yang Wajib Pakai UPS?
Jika instrumen Anda sensitif seperti: spektrofotometer, HPLC, mikroskop, PCR → wajib pakai UPS Line Interactive atau Online
Karena ada 2 musuh utama alat lab:
1. Listrik mati mendadak → diatasi UPS
2. Tegangan naik-turun / kedip → diatasi AVR di UPS Line Interactive/Online
Jika hanya pakai UPS Offline, saat tegangan PLN 190V maka 190V juga yang masuk ke alat. Lama-lama komponen bisa rusak.
3 Tips Memilih UPS untuk Laboratorium
1. Pastikan ada "AVR" di spesifikasi
2. Hitung Watt + spare 30%. Contoh: Alat 500W → beli UPS 800VA - 1000VA
3. Pilih Tipe Online jika alatnya harganya di atas 50 juta






