Monday, 9 April 2018

Dalam sepak bola , IQ, EQ fighting spirit sangat diperlukan disamping sisi teknis perlu pembenahan

INTLEJENSIA, PENGONTROLAN EMOSI DAN SEMANGAT JUANG TERNYATA SANGAT BERPENGARUH BESAR DALAM SEPAK BOLA

      Bagaimana dengan masa depan persepakbolaan nasional ? masyarakat Indonesia mayoritas penggila bola, bisa diukur dari penonton membanjiri stadion saat diadakan perhelatan sepak bola baik pertandingan lokal maupun internasional.
Pendukung fanatik akan selalu ada di mana-mana saat tim kesayanganya berlaga, apalagi apabila timnas bertanding dengan negara lain terutama apabila bertemu dengan musuh bebuyutan dari malasya jiwa nasinalisme bangsa bisa terbangkitkan.
Namun apakah keantusiasan para fans itu terbayar ? coba tengok prestasi sepak bola kita, apakah sudah memenuhi harapan mereka ? ternyata masih sangatlah jauh dari harapan, kadang ada harapan muncul saat tim yunior mampu berprestasi di luar negeri, tentunya tidaklah muluk-muluk kalau tim tersebut kedepanya manjadi sebuah harapan, akan tetapi kenyataanya tim senior yang dahulunya punya harapan tidak mampu bersaing, tidak mampu berprestasi bahkan bisa dibilang mletho, lah ini apa masalahnya ?  pasti banyak faktor penyebabnya antara lain pola pembinaan, kebijakan management pengurus dll.
Namun hal yang tidak bisa dianggap remah atau dikesampingkan adalah bersumber pada para pemain sendiri, kita menyadari bahwa postur tubuh para pemain kita tidak bisa menandingi para pemain dari daratan eropa, mestinya ini harus diberikan solusi mungkin dengan meningkatkan skill dan speed, akan tetapi itupun juga tidak cukup, mestinya para pemandu bakat timnas bisa mengukur tingkat kecerdasan atau intlejensia para pemain karena ini sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan di lapangan,bagaiman harus bergerak, bagaimana harus mengalahkan lawan, bagaiman harus bisa memanfaatkan momen yg sangat cepat dan tepat sehingga bisa mmebuahkan goal.
Disamping kemampuan kecerdasan mestinya para pemain juga memiliki daya pengontrolan emosi, karena apabila dikuasai emosi yang negatif akan merugikan diri sendiri dan tim, seharusnya pemain bisa merubah emosi negatif dirubah menjadi positif, sehingga tidak banyak kehilangan energi, perlu diketahui emosi negatif itu mengeluarkan energi lebih besar daripada emosi positif.
Para pemain seharusnya selalu dipupuk fighting spirit yang menggelora sehingga bisa tampil prima tanpa mengenal rasa lelah dan putus asa, semestinya selalu sadar bahawa sebelum pemimpin pertandingan meniup peluat terakhir, maka pertempuran belum selesai.
Nah ke tiga hal tersebut di atas mestinya pihak PSSI bisa mengejawantahkan kepada seluruh punggawa tim nasional Indonesia sehingga mambu berprestasi.
Apabila ditengok system pembinaan pemain muda sepertinya ada yang kurang tepat, walaupun sudah terbentuk Sekolah-sekolah sepak bola ( SSB ) sejak usia dini di seluruh pelosok tanah air, namun seeprtinya pembinaan mental pemain secara psikologis masih kurang, ini bisa dilihat apabila ada pertandingan-pertandingan antar SSB, masih saja ada para pembina bola selalu berusaha agar anak didiknya selalu menang entah dengan cara apapun, padahal kualitas binaanya memang belum memenuhi standart pola permainan sepak bola yang benar, coba kita amati teknik mengolah bola, mengontrol bola anak -anak didik masih belum benar, mestinya ini yang perlu dibenahi, juga maslah stamina.

No comments:

MENYEMBUHKAN DARI SERANGAN COVID BERDASARKAN PENGALAMAN DR RUMAH SAKIT

  Nasihat di rumah sakit isolasi (bisa diterapkan di rumah) -obat yang diambil di rumah sakit isolasi  1. Vitamin C-1000  2. Vitamin E (E)  ...