Menurut gue Hampir gak ada pemimpin memikirkan kepentingan rakyat selama dia lahir dari rahim partai. Mau Nasdem dengan anisnya, PDI dengan ganjarnya, bahkan Gerindra dengan prabowonya.
Lo mau berharap apa dari pemimpin hasil partai?
Paling ujungnya bikin kebijakan yang menguntungkan partainya.
Ini bukan sinis. Ini cara kerja.
Partai itu mesin. Mesin butuh bensin. Bensinnya: kekuasaan, jabatan, proyek, posisi. Jadi jangan pura-pura kaget kalau begitu duduk, yang pertama diurus bukan rakyat, tapi utang politik.
Dan ini bukan cuma di Indonesia. Di mana-mana sama.
Makanya, dalam sejarah manusia, pemimpin yang gak punya kepentingan pribadi itu langka banget. Bukan langka kayak emas. Langka kayak air di gurun.
Nah, di titik ini, menariknya, justru banyak sejarawan dan pemikir non-Muslim yang bilang: ada satu nama yang aneh kalau dibaca pakai logika politik biasa.
Muhammad.
Bukan kata ustaz. Bukan kata khotbah.
Ini kata orang-orang Barat yang dingin, skeptis, dan gak punya kewajiban ngebelain Islam.
Pertanyaannya simpel:
Kalau Muhammad itu cuma pengen kuasa, pengen kaya, pengen pengaruh — ngapain dia milih jalan paling nyiksa?
Coba Lo bayangin.
Waktu di Mekah, sebelum punya pasukan, sebelum punya negara, sebelum punya apa-apa, dia itu:
Ditawarin jadi raja → nolak
Ditawarin harta → nolak
Ditawarin perempuan → nolak
Ditawarin kompromi → nolak
Yang nawarin bukan orang kecil. Yang nawarin itu elite Quraisy, pemilik modal, pemilik kuasa, pemilik segalanya di Mekah.
Kalau dia mau “realistis”, mau “dewasa politik”, mau “kompromi dikit demi stabilitas” — hidupnya selesai saat itu juga.
Enak. Aman. Kaya. Terhormat.
Tapi dia pilih apa?
Pilih dimusuhi.
Pilih diboikot.
Pilih dicaci.
Pilih diancam dibunuh.
Pilih hidup susah bertahun-tahun.
Ini titik di mana banyak sejarawan Barat garuk-garuk kepala.
Seorang sejarawan Skotlandia, Thomas Carlyle, yang bukan Muslim, malah bilang kira-kira begini:
“Gak masuk akal nyebut Muhammad penipu. Orang penipu itu cari untung. Ini orang justru hidupnya makin hancur karena apa yang dia bawa.”
Logikanya simpel, bahkan buat orang paling awam:
Kalau Lo bohong, Lo pasti pengen hidup Lo enak.
Kalau Lo jualan agama, Lo pasti pengen kaya.
Kalau Lo main politik, Lo pasti pengen aman.
Tapi ini orang?
Makin keras berdakwah, makin miskin.
Makin konsisten, makin banyak musuh.
Makin berpengaruh, makin besar ancaman pembunuhan.
Ini bukan pola orang cari untung.
Ini pola orang yang kejebak sama keyakinannya sendiri.
Sejarawan Barat lain, Montgomery Watt, malah bilang lebih kejam lagi:
“Kalau Muhammad itu penipu, berarti dia penipu paling bodoh dalam sejarah. Karena dia gak pernah menikmati hasil penipuannya.”
Coba Lo bandingin sama pemimpin hari ini.
Baru kampanye aja udah mikirin:
Sponsor siapa
Balikin modal gimana
Bagi kursi ke siapa
Proyek buat siapa
Begitu kepilih:
Rakyat belakangan
Partai duluan
Kroni duluan
Balas budi duluan
Muhammad?
Begitu dia punya kuasa penuh di Madinah, dia bisa hidup kayak raja. Gak ada yang bisa ngelarang. Dia kepala negara. Panglima perang. Pemimpin agama.
Tapi faktanya?
Tidur di tikar kasar.
Baju ditambal.
Kadang gak ada makanan di rumah berhari-hari.
Wafat hampir tanpa harta.
Ini bukan romantisasi. Ini dicatat bahkan oleh sejarawan non-Muslim.
Pertanyaannya sekarang jadi brutal:
Kepentingannya di mana?
Kekuasaan? Dia sudah punya, tapi gak dipakai buat numpuk hidup.
Harta? Bisa, tapi gak diambil.
Wanita? Bisa, tapi hidupnya tetap sederhana.
Popularitas? Justru hidupnya penuh cacian.
Seorang penulis Barat, Michael Hart, sampai bilang: Muhammad itu unik karena sukses total secara politik dan agama, tapi gak ninggalin jejak manusia yang hidup buat foya-foya.
Ini anomali.
Dalam sejarah, hampir semua pendiri kekuasaan:
Ninggalin istana
Ninggalin dinasti
Ninggalin kekayaan
Ninggalin simbol kemewahan
Muhammad ninggalin apa?
Ninggalin nilai.
Ninggalin sistem.
Ninggalin beban moral ke pengikutnya.
Dan itu lebih berat dari warisan harta.
Sekarang kita jujur aja.
Di zaman sekarang, ada gak pemimpin yang:
Gak mikir periode berikutnya?
Gak mikir citra?
Gak mikir koalisi?
Gak mikir keluarga dan kroni?
Hampir gak ada.
Karena sistemnya memang bikin manusia gak mungkin bersih.
Tapi Muhammad itu hidup sebelum ada sistem partai, sebelum ada demokrasi, sebelum ada pencitraan. Dan justru karena itu, motifnya kelihatan telanjang.
Kalau dia mau nipu, itu kesempatan emas.
Kalau dia mau main politik, itu panggung sempurna.
Tapi yang dia pilih?
Jalan paling mahal, paling sepi, paling berdarah.
Makanya, bahkan buat orang non-Muslim yang gak percaya wahyu sekalipun, banyak yang akhirnya bilang:
“Gue mungkin gak percaya kerasulannya. Tapi hampir mustahil bilang dia gak tulus.”
Dan di titik ini, kita harus berani ngaca.
Hari ini, kita hidup di zaman:
Orang sedekah sambil branding
Orang kritik sambil bangun panggung
Orang bicara rakyat sambil hitung kursi
Kita hidup di zaman di mana kebaikan pun butuh sponsor.
Dan tiba-tiba, ada satu manusia di sejarah yang justru:
Makin besar, makin sederhana.
Makin berkuasa, makin gak ngurus diri sendiri.
Makin diikuti, makin berat hidupnya.
Lo gak harus beriman buat ngeliat satu hal ini:
Dari sudut pandang manusia biasa, Muhammad itu pemimpin yang paling gak masuk akal secara politik.
Dan justru karena itu, banyak sejarawan Barat akhirnya sampai ke satu kesimpulan yang sunyi tapi berat:
Kalau ini semua cuma sandiwara, maka ini adalah sandiwara paling bodoh dan paling mahal dalam sejarah manusia.
#PARTAI
#PEMIMPIN
#NABI
#ROSUL
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Buka terus info, ambil artikel bermanfaat,sebarkan ke semua orang,
Untuk mencari artikel yang lain, masuk ke versi web di bawah artikel, ketik judul yang dicari pada kolom "Cari Blog di sini " lalu enter