Sunday, 19 May 2019

PEMILU INDONESIA 2019 UNIK, RUMIT, MELELAHKAN HANYA SATU-SATUNYA DI DUNIA

PEMILU TERUNIK DAN TERUMIT DI DUNIA

Tanggal 17 April 2019 merupakan gebrakan tonggak sejarah baru di Inodnesia, yang mana dilaksanakanya proses pesta Demokrasi pemilihan Presiden dan wakil presiden yang dilaksanakan serntak berbarengan dengan pemilihan legislatif atau wakil rakyat atau anggaota dewan baik dari tingkat Kota, Propinsi , DPD dan pusat.
Dalam pelaksanaan hajatan tersebut tentunya telah digodok cukup matang oleh lembaga-lembaga yang berkopenten melalui wakil rakyat atau dewan dan pemerintah, dan memerlukan waktu cukup lama pembahasanya agar pemilu serentak tersebut berjalan lancar tanpa ada kendala apapun.
Namun realita praktek dilapangan sangtalah pelik, rumit tapi unik juga, diawali dari proses kampanye, antara kedua kubu pendukung sudah saling serang, dan mereka terfokus hanya pada pemilihan Presiden dan wakil presiden yang kebetulan hanya diikuti oleh 2 kontestan yaitu Pasangan Bp.Jokowi dan Bp.KH Ma'ruf Amin sebagai paslon 01 dan Bp.Prabowo dengan Bp.Sandiaga Uno sebagai Paslon nomor urut 02.
Karena dunia digital sudah amat canggih dan lebih menyentuh, tak ayal dalam kampanye sekarang melalu media elektronik online medsos seperti Facebook, Instagram, WA, dan lain-lain, walaupun model konvensional dengan memasang spanduk-spanduk di tempat umum juga masih dilakukan.
Bermacam kata dan kalimat ditampilkan untuk iming-iming pemilih, agar mendapatkan simpati dan dukungan, bahkan ada dari beberapa calon legislatif menjadi berjiwa sosial tinggi seprti membagi-bagikan sembako, memberi alat-alat penunjang ibadah ke tempat-tempat ibadah, bahkan ada yang membagi-bagikan amplop diisi uang , dan menjanjikan hal-hal yang kadang tidak masuk akal, bahkan sampai berani bertaruh dengan tidak akan mengambil gaji apabila bisa memenangkan pemilu, hal ini jelas tidak logis, apa iya selam 5 tahun tidak memberi nafkah keluarga ? apa iya rela mengorbankan tenaga dan fikiran murni demi rakyat, sangat diragukan.
Indonesia ini sangat majemuk bisa dibilang hiterogen, terdiri dari bermacam suku bangsa dan agama, maka terbentuklah Pancasila, namun kadang dalam berkampanye ada kontestan yang percaya diri ingin merebut mayoritas dengan berdasarkan keagamaan, ini tidak disadari, bahwa yang minoritas itu terakumulasi justru lebih besar, apalagi ada sekelompok termasuk dalam golongan mayoritaspun belum tentu terpikat, karena ada perbedaan pandang atau idiologi dari kelompok yang satu dengan yang lainya.
Realita setelah dilakukan proses pemilihan atau pencoblosan, untuk mengetahui hasil ada sistem Quick Count yang dilakukan oleh beberapa lembaga survey yang kredibel ternyata sudah menunjukan grafik kemenangan salah satu calon, namun ternyata pihak calon yang kalah tidak bisa menerima kenyataan karena sudah merasa percaya diri akan mampu memenangi kontes karena berhasil mengumpulkan sebegitu banyak masa, sehingga tidak percaya dengan hasil Quick Count, dan mencari-cari alasan menuduh kecurangan-kecurangan, walaupun itu perlu pembuktian juga.
Kerja KPU periode ini sangatlah berat, karena pelaksanaanya serentak , sehingga proses perhitunagn suara sangatlah rumit, memerlukan waktu yang lama, menguras tenaga dan pikiran, belum lagi tekanan-tekanan dari para kontestan ini menambah beban para pelaksana penyelenggara pemilu, lebih-lebih sampai digembar-gemborkan melakukan kecurangan-kecurangan, maka tak ayal karena sangking beratnya para petugas dilapangan banyak yang jatuh sakit, bahkan tidak sedikit yang meninggal, fenomena ini juga dimanfaatkan oleh kelompok tertentu untuk menuduh , menyalahkan penyelenggara Pemilu.
Siapapun tidak mau kalah, siapapun ingin memenangkan, akan tetapi dalam pertaruangan mesti harus ada yang kalah dan ada yang menang, yang menang tidak boleh sombong , yang kalah harus Legowo, hala yang tidak elit begitu kalah memprovokasi masa, yang bisa membuat keonaran dan kegaduhan sehingga membuat rakyat jadi resah dan kuatir.
Mestinya demokrasi ini harus disikapi dengan bijak, jangan sampai NKRI berantakan gara-gara ambisi,kepentingan keutuhan negara adalah yang utama, toh semua itu sudah ada ketentuan dari Tuhan siapa yang harus memenangkan kontes ini, apakah sebagai manusia ciptaan Tuhan tidak mau menerima keputusan Tuhanya ? 
Ternyata menurut perhitungan real count dari KPU dimenangkan oleh kubo Paslon 01 yaitu pasangan antara Bp.Joko Widodo dengan Bp. Ma'ruf Amin, dan sangat telak dikisaran 55 % untuk pasangan 01 dan dikisaran 45 %, nah fenomena ini sepertinya tetap kubu 02 tetap tidak bisa menerima, bahkan sebelum batas akhir pengumuman pemenang yang menurut rencana akan diumumkan tanggal 22 mei 2019, kubu 02 mengadakan demo besar-besaran untu mengepung KPU, namun KPU sangat tanggap dan cerdas sehingga diumumkan tanggal 21 dini hari, ini tentunya untuk menghindari kerusuhan, namun tetap saja kubu 02 menyelenggarakan Demo di depan gedung KPU yang justru tidak menutup kemungkinan disusupi orang-orang yang tidak bertanggung jawab, untuk mengadakan kerusuhan sehingga akan menuduhkan kepada pihak aparat. 
Dan ternyata benar, kerusuhan benar-benar terjadi, bahkan ada jatuh korban, yang disayangkan ada korban masih berumur 15 tahun, ini jelas melanggar undang-undang pemilu, karena yang terlibat untuk mengikuti proses pemilihan umum adalah orang dewasa yang sudah berumur 17 tahun atau lebih atau sudah menikah, kalau demikian siapa yag berhak disalahkan ? mestinya orang tua korban melarang anaknya untuk ikut-ikutan demo, juga koordinator demo mestinya juga melarang peserta yang di bawah 17 tahun.
Sebuah aksi demontarasi yg akhirnya menjdi rusuh pasti ada yang mendalangi, pasti ada yang membuat skenario, cuman siapa dalangnya ini pihak kepolisian yang punay keawajiban mengusut sampai tuntas, memang berdasarkan release di media masa sudah ada beberapa yang ditangkap, ada beberapa provokator-provokator yang sudah ditangkap, patut di acungi jempol kinerja polisi dalam melakukan aksi cepat, karena apabila tidak dilakukan maka kerusahuan akan semakin luas, terutama orang-orang yang sudah termakan berita HOAX dan terprovokasi.
Tentunya apabila kerusuhan meluas maka tidak bisa dielakan negara akan geger, terjadi perang saudara, disaat seperti itu pastilah ada orang yang jahat justru mendapatkan keuntungan, dan orang-orang jahat yang sengaja menimbulkan kerusuhan tak ubahnya berperilaku seperti PKI, bahkan lebih kejam karena dengan cara membuat fitnah.  
Sepertinya HOAX tidak pernah berhenti dihembuskan, bahkan seorang ustadz sangat keterlaluan menuduh meninggalnya petugas KPPS diracun, ini jelas hal yang sangat ngawur, untung saja penyebar hoax itu juga sudah ditangkap.
Kubu 02 tidak bisa serta merta menerima kekalahan hasil Pilpres, maka menuntut melalui jalur hukum ke MK, maka digelarlah sidang perselisihan pemenangan Presiden yang di mulai tanggal 14 juni 2019, sidang diawali dengan pengajuan oleh Pemohon dalam hal ini adalah dari kubu 02, seteleah diikuti sidang ternyata ada beberpa hal yang menarik dan sangat lucu, ada yang tidak bisa memnunjukan bukti konkrit, para saksi yang diajukan malah seperti dagelan yang bisa mengundang tawa bagi rakyat Indonesia yang menontonya , karena disiarkan secara langsung oleh beberapa stasion Televisi.
sanagt kentara sekali kualitas para saksi baik dari kubu pemohon maupun termohon, dan sangat menarik adalah dihari terakhir sidang, terjadi argumen para ahli hukum, dan seolah-olah seluruh maysrakat yang menonton mendapat mata kuliah tentang Hukum, sangat menarik adalah penjelasan Profesor Eddy Hiariej sangat berkualitas.


No comments:

MENYEMBUHKAN DARI SERANGAN COVID BERDASARKAN PENGALAMAN DR RUMAH SAKIT

  Nasihat di rumah sakit isolasi (bisa diterapkan di rumah) -obat yang diambil di rumah sakit isolasi  1. Vitamin C-1000  2. Vitamin E (E)  ...